Info Soal UM UGM

Tahun 2008 ini merupakan tahun keenam penyelenggaran UM-UGM. Tiap tahun, seperti dituturkan Direktur Administrasi Akademik UGM, Dr. Budi Prasetyo Widyobroto, DEA., DESS, penyelenggaraan UM-UGM selalu mengalami perkembangan. Perbaikan demi perbaikan selalu terjadi setiap tahun. “Karena UGM ingin mencari yang optimal, baik kualitas dari inputnya maupun kualitas pelaksanaannya. Sehingga dari tujuan-tujuan UM-UGM yang sudah dicanangkan, baik terkait daya tampung terbatas maupun perhatiannya terhadap kepentingan nasional. Ia tidak hanya mengakomodasi kepentingan lokal saja, namun juga terkait anak-anak berprestasi dan lain-lain,” ujar Pak Budi.

UM-UGM dimulai tahun 2003. Tahun berikutnya, kata Pak Budi, UGM sudah merasa bahwa penyelenggaraannya sudah stabil. Maka penyelenggaraannya tidak mengalami perubahan yang berarti. “Sehingga kemudian semua pihak merasa berkepentingan, baik internal UGM, baik melalui Senat Akademik Universitas terkait mutu dari input, maupun eksternal yaitu masyarakat yang selalu mencermati perkembangan UM UGM ini,” jelas Pak Budi.

Diakui Pak Budi, tingkat kepercayaan masyarakat menitipkan putra-putrinya di UGM melalui UM-UGM meningkat dari tahun ke tahun, baik dari segi sebaran daerah asal, SMU-SMU berkualitas maupun prestasi. “Dari tahun ke tahun makin meningkat. Itu mulai tahun 2003. Sehingga sampai tahun 2008 ini dari segi yang lain-lain, UGM termasuk yang terbaik di Indonesia. Sehingga makin percaya orangtua-orangtua menyekolahkan putra-putrinya di UGM,” aku Pak Budi.

Kualitas lulusan UM-UGM lebih baik

Tentu menjadi tidak fair kalau klaim di atas hanya berasal dari Pak Budi. Apalagi UM-UGM dikatakan jauh lebih baik dari sistim-sistim penjaringan sebelumnya. Maka diperlukan informasi dari pihak lain.

Beruntung ada informasi tentang kualitas mahasiswa UGM yang diterima lewat UM-UGM. Informasi tersebut berasal dari kajian Senat Akademik (SA) UGM tahun 2006. Salah satu hasilnya adalah, mahasiswa UGM yang diterima lewat UM-UGM ternyata memberikan kontribusi terhadap rerata indeks prestasi kumulatif (IPK).

SA UGM saat itu, kata Pak Budi, melakukan klasifikasi berbagai jalur yang ada: jalur Penjaringan Bibit Unggul (PBU), Ujian Tulis dan SPMB (waktu itu). Dari klasifikasikan tersebut, jalur Ujian Tulis memberi kontribusi terhadap rerata indeks prestasi komulatif (IPK) paling baik. “Artinya, prestasi anak-anak yang dijaring melalui Ujian Tulis (Utul UM-UGM) lebih baik prestasinya dibanding PBU dan SPMB. Itu sangat wajar, mengingat paling tidak yang diterima melalui Utul UM-UGM tingkat kompetisinya rata-rata 1:20an,” jelas Pak Budi.

Meski 1:20, tingkat kompetisi antar program studi nampaknya cukup bervariasi. Taruhlah di Fakultas Kedokteran (FK) UGM, satu orang diterima maka ia harus menyisihkan 120 calon yang lain. “Di FK bisa jadi 1:120 atau 1:110. Tapi rata-ratanya memang 1:20. Kemudian terbaik kedua dalam memberikan kontribusi IPK adalah Penjaringan Bibit Unggul dan yang paling rendah SPMB,” tutur Pak Budi.

Pendapat serupa disampaikan Prof. Dr. Narsito, Ketua Komisi I Bidang Pengembangan Akademik SA UGM. Katanya, mahasiswa UGM hasil penjaringan UM-UGM rata-rata memiliki IPK lebih tinggi dibanding mereka yang berasal dari SPMB. “Rata-rata IPK penjaringan SPMB secara keseluruhan memang lebih rendah. Namun yang menarik justru IP tertinggi diraih dari penjaringan jalur ini,” ujar Pak Narsito.

Pak Narsito menyebutkan, data kajian SA UGM terhadap evaluasi jalur masuk UGM berdasar IPK mahasiswa UGM angkatan 2004 menunjukkan Ujian Tulis 3,1, jalur SPMB 2,7, jalur PBUTM 2,9, jalur PBUB 3,17, PBUPD 3,03 dan PBOS 2,80. Data ini memperlihatkan bahwa mahasiswa UGM asal penjaringan UM UGM (Utul, PBUB, PBUD, PBOS) memiliki prestasi IP tinggi. Asumsi ini memperlihatkan jika persaingan di UM-UGM jauh lebih berat daripada SPMB.

Soal UM-UGM memang sulit

Bagi Pak Budi, ujian tulis UM-UGM lebih baik, karena di dalam penjaringannya dikembangkan instrumen evaluasi. Ini yang membedakan UM-UGM dengan Seleksi Penerimaan Mahasiswaan Baru (SPMB). SPMB hanya memprediksi dari sisi prestasi akademik saja. Akibatnya, ia mudah disiasati oleh bimbingan tes atau guru dengan cara menggodog (mempersiapkan) anak-anak dengan berbagai latihan soal disertai materi-materi prediksi. “Itu yang mereka lakukan. Jadi, ada bimbingan tes intensif 4-6 bulan hanya untuk menghadapi itu. Sehingga berbagai soal masih bisa diprediksi. Tapi kalau Ujian Tulis UM-UGM itu kan lain. Karena, selain aspek akademik (seperti SPMB), kita masih punya satu prediksi dengan tes TPA (semacam tes psikologi). Tes ini bisa dipakai untuk memprediksi bagaimana kuantitatif/kualitatif, bagaimana verbalnya untuk memprediksi apakah yang bersangkutan peserta tes itu mampu menyelesaikan studi di tingkat Perguruan Tinggi. Itu plusnya Utul,” lanjut Pak Budi menjelaskan.

Soal TPA ujian tulis UM-UGM memang dibuat sedemikian rupa sehingga ia tidak bisa diprediksi oleh bimbingan tes atau guru. Muatan isinya tidak memungkinkan pesertanya mempersiapkan diri lebih dulu.

Pak Budi mengakui, salah satu faktor yang mendongkrak kualitas penjaringan Utul UM UGM terkait soal yang dibuat sangat sulit. Sebagai instrumen seleksi, soal Ujian tulis UM-UGM dan UNAS berbeda. “Tidak seperti UNAS. UNAS itu kan seperti grade, grade seperti ini berarti dia lulus. Sementara kalau Utul ini kan instrumen seleksi. Jadi, memang dibuat sulit. Kalau soal tidak sulit, bayangkan saja yang masuk Fakultas Kedokteran UGM. Biasanya yang mendaftar hampir 11.000. Padahal UGM hanya mengambil seratus orang. bagaimana UGM bisa menyeleksi kalau soalnya dibuat tidak sulit?” paparnya. (Wawancara dan penulisan: Agung; Editing: Abrar)